Gula darah tinggi (hiperglikemia) dan jumlah trombosit yang meningkat (trombositosis) mungkin tampak seperti masalah yang terpisah, tetapi keduanya terhubung erat oleh satu mekanisme patologis: Peradangan Kronis tingkat rendah. Memahami benang merah ini sangat penting karena kolaborasi kedua kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serius, seperti serangan jantung dan stroke.
Ketika kadar glukosa dalam darah tetap tinggi dalam jangka waktu lama, hal itu memicu Peradangan Kronis pada dinding pembuluh darah. Glukosa yang berlebihan merusak sel endotel, memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti C-Reactive Protein (CRP). Peradangan ini adalah respons pertahanan tubuh, namun jika berkepanjangan, justru merusak jaringan pembuluh darah.
Bagaimana Peradangan Kronis memengaruhi trombosit? Trombosit, yang seharusnya berfungsi untuk menghentikan pendarahan, menjadi lebih aktif (hyper-reactive) di lingkungan yang meradang. Sitokin inflamasi merangsang produksi trombosit di sumsum tulang, yang menyebabkan jumlahnya meningkat. Selain itu, trombosit yang ada menjadi lebih lengket dan cenderung mudah menggumpal.
Kombinasi gula tinggi, Peradangan Kronis, dan trombosit yang hiperaktif ini menciptakan “trias risiko” pembekuan darah. Pembuluh darah yang sudah rusak oleh glukosa dan meradang menjadi tempat yang ideal bagi trombosit yang lengket untuk berkumpul, membentuk gumpalan (trombus). Proses ini mempercepat aterosklerosis dan penyumbatan arteri.
Penelitian menunjukkan bahwa trombosit pada penderita diabetes seringkali tidak hanya lebih banyak, tetapi juga memiliki umur yang lebih pendek dan fungsi yang terganggu. Meskipun ini adalah respons tubuh terhadap kerusakan vaskular, kondisi tersebut justru mempercepat proses pembentukan plak dan penyempitan pembuluh darah di jantung dan otak.
Mengatasi risiko ini membutuhkan pendekatan manajemen ganda. Prioritas utama adalah mengendalikan gula darah secara ketat melalui diet dan pengobatan. Menurunkan hiperglikemia akan mengurangi pemicu awal peradangan pada sel endotel, sehingga secara tidak langsung mengurangi aktivasi trombosit yang berlebihan.
