Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki risiko kesehatan yang spesifik bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir, sehingga pemahaman mengenai kesehatan maritim menjadi sangat krusial bagi tenaga medis maupun nelayan. Interaksi yang terus menerus dengan ekosistem laut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membawa risiko paparan patogen laut, racun dari biota laut, serta efek fisik dari salinitas tinggi yang dapat merusak integritas kulit manusia. Banyak pekerja di sektor kelautan mengabaikan gejala awal gangguan kesehatan karena dianggap sebagai risiko pekerjaan biasa, padahal akumulasi paparan mineral laut dan mikroorganisme tertentu dapat menyebabkan infeksi sistemik yang berat.
Prosedur pengobatan untuk gangguan kulit akibat air laut harus diawali dengan debridemen yang bersih guna menghilangkan sisa-sisa garam dan kontaminan organik yang menempel pada jaringan epitel yang rusak. Udara laut yang terkontaminasi limbah atau bakteri seperti Vibrio vulnificus dapat menyebabkan selulitis yang berkembang cepat menjadi nekrosis jaringan jika tidak segera ditangani dengan antibiotik spektrum luas yang sesuai dengan profil resistensi lokal. Selain infeksi, masalah umum yang sering dihadapi adalah dermatitis kontak iritan yang dipicu oleh kadar garam tinggi yang menarik cairan keluar dari sel kulit (dehidrasi osmotik), menyebabkan kulit menjadi pecah-pecah dan rentan terhadap invasi kuman.
Gejala penyakit akibat paparan zat toksik dari ubur-ubur atau bulu babi juga memerlukan penanganan kedokteran kelautan yang sangat spesifik untuk menetralisir racun yang masuk ke dalam sistem peredaran darah korban. Teknik melepaskan tentakel atau duri yang tertanam harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar kantong racun (nematosista) tidak pecah dan meningkatkan peradangan atau anafilaksis pada tubuh pasien secara mendadak. Tenaga medis di puskesmas pesisir wajib menguasai protokol pemberian antihistamin dan cairan infus untuk menstabilkan kondisi hemodinamik korban yang mengalami syok akibat toksin laut tersebut. Edukasi mengenai penggunaan alat pelindung diri, seperti pakaian selam atau sepatu udara, menjadi bagian integral dari layanan kesehatan primer untuk menekan angka kecelakaan kerja dan morbiditas di kalangan masyarakat nelayan dan pelaku wisata bahari di seluruh pelosok negeri.
