Eksploitasi Mahasiswa Magang: Kerja Rodi di RS Tanpa Uang Saku
Dunia pendidikan kesehatan di wilayah Pangandaran kini tengah menjadi sorotan tajam setelah munculnya berbagai keluhan mengenai praktik Mahasiswa Magang yang diperlakukan layaknya tenaga kerja penuh waktu namun tanpa hak kesejahteraan yang jelas. Para calon tenaga medis ini sering kali ditugaskan untuk menjaga bangsal rumah sakit selama belasan jam, melakukan tindakan medis yang berisiko, hingga menangani administrasi yang melelahkan di bawah tekanan senioritas. Fenomena ini menciptakan keprihatinan mendalam karena proses belajar yang seharusnya menjadi ajang transfer ilmu justru berubah menjadi ajang eksploitasi tenaga kerja murah berbaju seragam pendidikan.
Kondisi lapangan menunjukkan bahwa beban kerja yang diberikan kepada para Mahasiswa Magang sering kali tidak masuk akal dan melampaui batas kemampuan fisik seorang pelajar yang masih dalam tahap observasi. Mereka dipaksa masuk dalam jadwal shift malam yang padat tanpa adanya kompensasi biaya transportasi atau uang makan yang memadai dari pihak manajemen rumah sakit terkait. Ketimpangan ini sangat terasa ketika kontribusi tenaga mereka sangat nyata dalam membantu operasional harian fasilitas kesehatan, namun status mereka hanya dianggap sebagai beban yang sedang menumpang belajar tanpa hak menuntut upah sedikit pun.
Banyak orang tua murid yang mulai mengeluhkan biaya pendidikan yang sudah mahal, namun masih harus menanggung beban biaya hidup tambahan selama anak mereka menjalankan tugas Mahasiswa Magang di lokasi yang jauh dari rumah. Pihak institusi pendidikan tinggi kesehatan dituntut untuk segera mengevaluasi kerja sama dengan mitra rumah sakit agar hak-hak dasar mahasiswa tetap terlindungi selama masa praktik kerja lapangan. Tanpa adanya regulasi yang jelas mengenai standar uang saku atau asuransi kecelakaan kerja, para mahasiswa ini berada dalam posisi tawar yang sangat lemah dan rentan mengalami kelelahan mental yang kronis sebelum mereka benar-benar lulus.
Dampak dari sistem kerja yang tidak manusiawi ini adalah menurunnya kualitas konsentrasi para Mahasiswa Magang dalam menyerap prosedur medis yang benar, yang pada akhirnya dapat membahayakan keselamatan pasien di rumah sakit. Kelelahan yang luar biasa akibat kurang tidur dan nutrisi yang minim membuat proses belajar menjadi tidak efektif dan justru menanamkan trauma terhadap profesi kesehatan di masa depan. Pemerintah melalui dinas kesehatan dan kementerian pendidikan harus segera turun tangan untuk menetapkan batas jam kerja dan hak finansial minimal bagi mereka yang sedang menempuh jalur pengabdian praktik ini.
